Peran Bahasa Mandarin dalam Menjembatani Hubungan China dan Indonesia

Pembekuan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Republik Rakyat China (RRC) pada awal Orde Baru diikuti dengan kebijakan pelarangan pembelajaran bahasa Mandarin di semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan.

Bahasa Mandarin tidak boleh diajarkan melalui pendidikan formal atau informal dan tidak boleh digunakan di tempat umum. Buku dalam bahasa Mandarin juga tidak diperbolehkan beredar di Indonesia.

Lambat laun kemampuan orang Indonesia berbahasa Mandarin semakin menurun, termasuk pada masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Kegunaan berbicara bahasa Mandarin semakin berkurang. Bahkan anak muda tidak lagi melihat bahwa belajar bahasa Mandarin masuk akal. Sudah berjalan lebih dari 25 tahun.

Di penghujung masa Orde Baru, hubungan perdagangan kedua negara mulai terbuka. Hubungan ekonomi Indonesia-Cina meningkat pesat karena peningkatan volume perdagangan berbagai bahan baku dan produk jadi kedua negara.

Pada akhir November 2020, volume perdagangan Indonesia dengan China mencapai $63,4 miliar.

Angka itu naik tajam dibandingkan tahun 1990 yang sebesar $1,28 miliar.

Baca juga: Baca 70 Tahun Hubungan Indonesia-Cina, Pilar Stabilitas Daerah

Peningkatan volume perdagangan menjadikan China sebagai mitra dagang terpenting bagi Indonesia. Namun, masih terdapat kendala untuk mempererat hubungan perdagangan antara Indonesia dan China, yaitu penguasaan bahasa Mandarin.

Dapatkan informasi, inspirasi, dan wawasan di email Anda.
email pendaftaran

Pada tahun 2001 penulis menjadi Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Luar Sekolah dan Kepemudaan di Departemen Pendidikan Nasional. Salah satu portofolio yang dilakukan saat itu adalah pengembangan kursus keterampilan, termasuk bahasa Mandarin, yang banyak diminati karena bertepatan dengan dibukanya hubungan perdagangan antara Indonesia dan China.

Saat itu jumlah kursus bahasa Mandarin masih sedikit.

Proses pembelajaran belum terkait dengan standarisasi internasional kompetensi bahasa Mandarin yaitu Hanyu Shuipoing Kaoshi (HSK). Tes HSK dilakukan oleh Hanban, lembaga resmi pemerintah China yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan bahasa Mandarin kepada dunia.

Jumlah kursus bahasa Mandarin berkembang pesat. Dari empat kota besar yaitu Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan pada tahun 2000, menyebar ke 20 provinsi di Indonesia pada tahun 2019.

Dengan dukungan Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Prof Malik Fadjar, Kementerian Pendidikan Nasional (Depdiknas) memungkinkan peningkatan jumlah kursus bahasa Mandarin di berbagai provinsi. Untuk itu, Kemendiknas juga bekerja sama dengan Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Mandarin (BKPBM) yang dipimpin oleh komunitas Tionghoa di Indonesia.

Organisasi yang diketuai Arifin Zain ini merupakan jembatan kerjasama pendidikan Indonesia dan Tionghoa. Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pemerintah China membantu standarisasi kurikulum, peningkatan keterampilan guru, dan penyediaan bahan ajar. Hal ini meningkatkan jumlah peserta tes HSK dari 1.200 pada 2001 menjadi 17.784 pada 2019.

Baca juga: Mengupas Kerjasama Investasi China di Indonesia

Pada tahun 1990, pengajaran dan penelitian hanya dilakukan di Universitas Indonesia sebagai institusi pendidikan tinggi. Pada awal tahun 2003, diskusi intensif mulai memasukkan bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran pilihan di sekolah umum.

Baru pada Juni 2004 Depdiknas meresmikan rencana tersebut. Meski begitu, pengajaran bahasa Mandarin di sekolah umum terkendala oleh kurangnya tenaga pengajar.

Untuk itu, pemerintah Indonesia telah mengirimkan guru ke China untuk mengikuti kursus pelatihan lanjutan di kelas bahasa Mandarin. Pada tahun 2003 Indonesia mengirimkan 51 guru bahasa Indonesia ke Fouzhou selama sebulan dengan biaya bersama.

Kerjasama pedagogis berlanjut dengan keterlibatan 20 guru bahasa Mandarin (guru sukarelawan) dari China pada tahun 2004. Anda mengajar di sekolah mitra selama setahun.

Setelah penulis menjadi Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan di bawah arahan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Bambang Sudibyo pada tahun 2005, jumlah instruktur dari China berlipat ganda dan pada tahun 2014 mencapai puncaknya dengan 100 instruktur.

Biaya hidup dan gaji para instruktur ditanggung oleh pemerintah China. Mereka diajarkan di sekolah-sekolah menengah negeri dan swasta yang membutuhkan serta di pesantren-pesantren.

Hingga saat ini, pemerintah China telah mengirimkan 1.020 guru bahasa Mandarin. Mereka memiliki 1,6 juta siswa di 20 provinsi yang mengajar e

LIHAT JUGA :

https://www.dosenmatematika.co.id/
https://pendidikan.co.id/
https://www.kuliahbahasainggris.com/
https://www.sekolahbahasainggris.co.id/
https://www.ilmubahasainggris.com/
https://www.kakakpintar.id/
https://ruangseni.com/
https://jurubicara.id/
https://www.i4startup.id/
https://minglebox.com/